Kamis, 04 November 2010

INDONESIA DI TENGAH BENCANA

Pdt. Prof. Dr. Sularso Sopater

Indonesia, yang di waktu sejahtera disebut sebagai “zamrud khatulistiwa”, bulan-bulan ini dilanda oleh berbagai bencana alam. Banjir bandang melanda Wasior, Papua Barat. Akhir Oktober 2010, gempa besar (7,2 Skala Richter) yang menimbulkan tsunami, menimpa Kabupaten Mentawai. Hempasan tsunami menyapu bersih beberapa desa di pulau Pagai Selatan. Disusul meletusnya Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah/D.I Yogyakarta, yang menyemburkan awan panas dan memakan korban banyak penduduk yang belum sempat mengungsi. Kesemua bencana ini menyebabkan ratusan orang meninggal, ratusan orang mengalami luka-luka berat dan ringan dan puluhan ribu pengungsi yang mengalami serba kemalangan lahir dan batin. Rumah dan seisinya habis punah dalam sekejap, anggota-anggota keluarga yang dikasihi meninggal tiba-tiba dengan cara mengenaskan, sebagian lain mengalami luka berat dan menjadi cacat, persediaan pangan dan tabungan lenyap tiba-tiba hingga harus menderita lapar dalam pengungsian. Para mahasiswa STT Cipanas asal Mentawai dan Papua, gundah gulana memikirkan akibat-akibat bencana di daerah asalnya masing-masing.


Sivitas Akademika STT Cipanas, seperti dalam peristiwa gempa Cianjur/ Jabar sebelumnya berlatih untuk menjadi peka terhadap penderitaan sesamanya. Percakapan-percakapan pribadi dan dalam kelompok kecil, berisi perbincangan mengenai bencana-bencana itu dengan segala akibatnya. Kelompok-kelompok doa dan ibadah-ibadah di Chapel menaikkan doa-doa syafaat bagi para korban bencana. Kolekte dalam “ibadah raya”, selama 6 minggu berturut-turut ditujukan untuk membantu menolong para korban bencana di Wasior, Mentawai dan sekitar Gunung Merapi.


Doa-doa syafaat yang dinaikkan berisi permohonan agar Tuhan Bapa Pengasih melimpahkan belas kasihan dan rahmat kepada puluhan ribu pengungsi, agar Tuhan memberkati usaha-usaha pertolongan oleh pemerintah dan masyarakat, dan agar Tuhan memberi perlindungan kepada rakyat Indonesia secara keseluruhan melalui pengendalian kekuatan-kekuatan semesta alam yang mengancam keselamatan manusia. Di samping itu memohonkan ampun mengenai dosa-dosa yang dilakukan sebagai bangsa, yang mungkin menjadi penyebab langsung dari salah satu bencana yakni banjir bandang.


Keprihatinan terhadap bencana-bencana yang dialami masyarakat Indonesia, merupakan kelanjutan dari tradisi sederhana dalam pengembagan kepekaan sosial di lingkungan Sivitas Akademika STT Cipanas. Latihan untuk mengembangkan kepekaan sosial ini sejak lama telah dilakukan melalui beberapa pelayanan sosial dalam bentuk Bakti Sosial bidang kesehatan kepada masyarakat desa Gadog setiap tahun dan Aksi Donor Darah bersama PMI cabang Cianjur secara periodik.


Semoga latihan kepekaan ini makin berhasil dan Tuhan mengabulkan doa-doa syafaat yang dinaikkan.



sumber gambar: kompas edisi Kamis, 4 November 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar